Teori ini dipelopori oleh Walter Lipmann (wartawan politik asal Amerika) pada tahun 1992. Ia
mengusulkan bahwa “masyarakat menerima fakta bukan sebagaimana adanya, tapi apa
yang mereka anggap sebagai fakta, kenyataan fatamorgana atau lingkungan palsu.
Untuk sebagian besar, kita tidak melihat dulu dan kemudian merumuskan, tapi
kita merumuskan dulu kemudian melihat”. Denis McQuail (2000) mengatakan bahwa
istilah ‘agenda setting’ diciptakan oleh Maxwell
McCombs dan Donald Shaw (1972,
1993), dua peneliti dari Universitas North Carolina, untuk menjelaskan gejala
atau fenomena kegiatan kamapanye pemilihan umum (pemilu) yang telah lama
diamati dan diteliti oleh kedua sarjana tersebut. Penelitian oleh McCombs dan
Shaw merupakan tonggak awal perkembangan teori agenda setting. Studi
efek media dengan pendekatan agenda setting sesungguhnya sudah mulai pada tahun
1960’an, namun popularitas baru muncul pada hasil penelitian karya McCombs dan
Donald Shaw mengenai fungsi khusus media massa.
Mereka
mengemukakan bahwa media massa mempunyai kemampuan untuk memindahkan wacana
dalam agenda pemberitaan kepada agenda publik. Kedua ahli tersebut percaya
bahwa ada dua sisi yang digunakan pada teori ini untuk mengkaji media yaitu
melihat kekuatan dari media dan kebebasan khalayak untuk memilih. Sesuatu yang dianggap penting oleh media maka hal tersebut akan menjadi
penting untuk dipublikasikan.
Teori agenda setting merupakan
teori komunikasi massa, yang melihat efek media massa terhadap masyarakat yang
mengkonsumsi media tersebut. Dimulai dengan menyaring berita, informasi,
tulisan atau artikel secara selektif oleh gatekeepers, mana hal yang harus
diinformasikan mana hal yang harus disembunyikan. Setiap peristiwa atau isu
yang dimunculkan, akan diberi bobot tertentu dalam penyajiannya kepada
masyarakat.
Fungsi penyusunan agenda telah
dijelaskan oleh Donal Shaw, Maxwell McCombs dan rekan-rekan mereka yang menulis
bahwa, ada bukti besar yang telah dikumpulkan bahwa penyunting dan penyiar
memainkan bagian yang penting dalam membentuk realitas sosial kita ketika
mereka menjalankan tugas keseharian mereka dalam memilih dan menampilakan
berita. Pengaruh media massa ini adalah kemampuan untuk memengaruhi perubahan
kognitif antarindividu untuk menyusun pemikiran mereka, telah diberi nama
fungsi penyusunan agenda dari komunikasi massa. Disini terletak pengaruh paling
penting dari komunikasi massa, kemampuannya untuk menata mental dan mengatur
dunia kita bagi kita sendiri. Singkatnya, media massa mungkin tidak berhasil
dalam dalam memberi kita apa yang harus dipikirkan, tetapi mereka secara
mengejutkan berhasil dalam memberitahu kita tentang apa yang harus kita
pikirkan. Atau dengan kata lain, penyusunan agenda membentuk gambaran atau isu
yang penting dalam pikiran masyarakat (Stephen W Littlejohn dan Karen A
Foss, 2009).
Berdasarkan
paragraf diatas dapat disimpulkan betapa kuatnya pengaruh media terhadap apa
yang difikirkan oleh audience-nya. Mungkin media belum tentu berhasil mengubah
sikap audience-nya, tapi media akan cukup memengaruhi apa yang difikirkan.
Dengan kata lain, media mampu memengaruhi atau justru menggiring persepsi
audience-nya.
CONTOH KASUS
Berita Gaza pada sisi peperangan yang
dianggap penting membuat masyarakat berpikir akan kebenaran yang diberitakan
media. Berbagai media memberitakan isu Gaza dari sudut pandang berbeda yang
membuat berita Gaza diterima oleh khalayak dan khalayak akan terus mengikuti
peristiwa tersebut. Masyarakat menerima pemberitaan yang di agendakan,
sehingga mempengaruhi pikiran khalayak tentang apa yang terjadi di Gaza
Palestina. Realitas yang ada di Gaza Palestina menjadi booming karena media stasiun
televisi termasuk internet juga terus menerus memberitakan serangan Israel
terhadap Gaza. Media stasiun televisi maupun media online menganggap penting
hal tersebut sehingga media mengagendakan peristiwa serangan di Gaza menjadi penting.
Kemudian isu tersebut dinilai publik sebagai isu-isu yang penting dan diikuti
terus perkembangannya. Publik menganggap apa yang diberitakan media itu penting
dan membuat publik berpikir Gaza harus di support.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar