Minggu, 15 Mei 2016

Teori Agenda Setting


Teori ini dipelopori oleh Walter Lipmann (wartawan politik asal Amerika) pada tahun 1992. Ia mengusulkan bahwa “masyarakat menerima fakta bukan sebagaimana adanya, tapi apa yang mereka anggap sebagai fakta, kenyataan fatamorgana atau lingkungan palsu. Untuk sebagian besar, kita tidak melihat dulu dan kemudian merumuskan, tapi kita merumuskan dulu kemudian melihat”. Denis McQuail (2000) mengatakan bahwa istilah ‘agenda setting’ diciptakan oleh Maxwell McCombs dan Donald Shaw (1972, 1993), dua peneliti dari Universitas North Carolina, untuk menjelaskan gejala atau fenomena kegiatan kamapanye pemilihan umum (pemilu) yang telah lama diamati dan diteliti oleh kedua sarjana tersebut. Penelitian oleh McCombs dan Shaw merupakan tonggak awal perkembangan teori agenda setting. Studi efek media dengan pendekatan agenda setting sesungguhnya sudah mulai pada tahun 1960’an, namun popularitas baru muncul pada hasil penelitian karya McCombs dan Donald Shaw mengenai fungsi khusus media massa.
Mereka mengemukakan bahwa media massa mempunyai kemampuan untuk memindahkan wacana dalam agenda pemberitaan kepada agenda publik. Kedua ahli tersebut percaya bahwa ada dua sisi yang digunakan pada teori ini untuk mengkaji media yaitu melihat kekuatan dari media dan kebebasan khalayak untuk memilih. Sesuatu yang dianggap penting oleh media maka hal tersebut akan menjadi penting untuk dipublikasikan.
Teori agenda setting merupakan teori komunikasi massa, yang melihat efek media massa terhadap masyarakat yang mengkonsumsi media tersebut. Dimulai dengan menyaring berita, informasi, tulisan atau artikel secara selektif oleh gatekeepers, mana hal yang harus diinformasikan mana hal yang harus disembunyikan. Setiap peristiwa atau isu yang dimunculkan, akan diberi bobot tertentu dalam penyajiannya kepada masyarakat.
Fungsi penyusunan agenda telah dijelaskan oleh Donal Shaw, Maxwell McCombs dan rekan-rekan mereka yang menulis bahwa, ada bukti besar yang telah dikumpulkan bahwa penyunting dan penyiar memainkan bagian yang penting dalam membentuk realitas sosial kita ketika mereka menjalankan tugas keseharian mereka dalam memilih dan menampilakan berita. Pengaruh media massa ini adalah kemampuan untuk memengaruhi perubahan kognitif antarindividu untuk menyusun pemikiran mereka, telah diberi nama fungsi penyusunan agenda dari komunikasi massa. Disini terletak pengaruh paling penting dari komunikasi massa, kemampuannya untuk menata mental dan mengatur dunia kita bagi kita sendiri. Singkatnya, media massa mungkin tidak berhasil dalam dalam memberi kita apa yang harus dipikirkan, tetapi mereka secara mengejutkan berhasil dalam memberitahu kita tentang apa yang harus kita pikirkan. Atau dengan kata lain, penyusunan agenda membentuk gambaran atau isu yang penting dalam pikiran masyarakat (Stephen W Littlejohn dan Karen A Foss, 2009).
Berdasarkan paragraf diatas dapat disimpulkan betapa kuatnya pengaruh media terhadap apa yang difikirkan oleh audience-nya. Mungkin media belum tentu berhasil mengubah sikap audience-nya, tapi media akan cukup memengaruhi apa yang difikirkan. Dengan kata lain, media mampu memengaruhi atau justru menggiring persepsi audience-nya.
CONTOH KASUS
Berita Gaza pada sisi  peperangan yang dianggap penting membuat masyarakat berpikir akan kebenaran yang diberitakan media. Berbagai media memberitakan isu Gaza dari sudut pandang berbeda yang membuat berita Gaza diterima oleh khalayak dan khalayak akan terus mengikuti peristiwa tersebut. Masyarakat menerima pemberitaan yang di agendakan, sehingga mempengaruhi pikiran khalayak tentang apa yang terjadi di Gaza Palestina. Realitas yang ada di Gaza Palestina menjadi booming karena media stasiun televisi termasuk internet juga terus menerus memberitakan serangan Israel terhadap Gaza. Media stasiun televisi maupun media online menganggap penting hal tersebut sehingga media mengagendakan peristiwa serangan di Gaza menjadi penting. Kemudian isu tersebut dinilai publik sebagai isu-isu yang penting dan diikuti terus perkembangannya. Publik menganggap apa yang diberitakan media itu penting dan membuat publik berpikir Gaza harus di support.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar