Sabtu, 07 Mei 2016

Teori Jarum Suntik (Hipodermik)


Pada umumnya khalayak dianggap hanya sekumpulan orang yang homogen dan mudah dipengaruhi. Sehingga, pesan-pesan yang disampaikan pada mereka akan selalu diterima. Fenomena tersebut melahirkan teori ilmu komunikasi yang dikenal dengan teori jarum suntik (Hypodermic Needle Theory). Teori ini menganggap media massa memiliki kemampuan penuh dalam mempengaruhi seseorang. Media massa sangat perkasa dengan efek yang langsung pada masyarakat. Khalayak dianggap pasif  terhadap pesan media yang disampaikan.
Teori ini dikenal juga dengan teori peluru, bila komunikator dalam hal ini media massa menembakan peluru yakni pesan kepada khalayak, dengan mudah khalayak menerima pesan yang disampaikan media. Teori ini berkembang di sekitar tahun 1930 hingga 1940an. Teori ini mengasumsikan bahwa komunikator yakni media massa digambarkan lebih pintar dan juga lebih segalanya dari audience. Teori ini memiliki banyak istilah lain. Biasa kita sebut Hypodermic needle (teori jarum suntik), Bullet Theory (teori peluru) transmition belt theory (teori sabuk transmisi). Dari beberapa istilah lain dari teori ini dapat kita tarik satu makna, yakni penyampaian pesannya hanya satu arah dan juga mempunyai efek yang sangat kuat terhadap komunikan.
Teori Peluru yang dikemukakan Wilbur Schramm pada tahun 1950-an ini kemudian dicabut kembali tahun 1970-an, sebab khalayak yang menjadi sasaran media massa itu tenyata tidak pasif. Pernyataan Schramm ini didukung oleh Lazarsfeld dan Raymond Bauer. Lazarfeld mengatakan bahwa jika khalayak diterpa peluru komunikasi, mereka tidak jatuh terjerembab, karena kadang-kadang peluru itu tidak menembus. Ada kalanya efek yang timbul berlainan dengan tujuan si penembak. Sering kali pula sasaran senang untuk ditembak. Sedangkan Bauer menyatakan bahwa khalayak sasaran tidak pasif. Mereka secara aktif mencari yang diinginkannya dari media massa, mereka melakukan interpretasi sesuai dengan kebutuhan mereka. Kesimpulannya adalah bahwa publik sama sekali tidak memiliki kekuatan untuk menolak informasi setelah ditembakkan oleh media komunikasi layaknya kemasukan obat bius melalui jarum suntik. Individu memiliki kemampuan untuk menyeleksi apa saja yang berasal dari luar & tidak direspons begitu saja.
Selain itu, teori ini memprediksikan dampak pesan-pesan komunikasi massa yang kuat dan kurang lebih universal pada semua audience (Severin, Wemer J.2005:314); Disini dapat dimaknai bahwa peran media massa di waktunya (sekitar tahun 1930an) sangat kuat sehingga audience benar mengikuti apa yang ada dalam media massa. Selain itu teori ini juga dimaknai dalam teori peluru. Karena apa yang di sampaikan media langsung sampai terhadap audience. (Nurudin. 2007 : 165); Kekuatan media yang begitu dahsyat bisa memegang kendali pikiran khalayak yang pasif dan tak berdaya.

Kekuatan teori jarum suntik:
1. Media memiliki peranan yang kuat dan dapat mempengaruhi efektif, kognisi dan behaviour dari audiencenya.
2. Pemerintah dalam hal ini penguasa dapat memanfaatkan media untuk kepentingan birokrasi (negara otoriter).
3. Audience dapat lebih mudah dipengaruhi.
4. Pesannya lebih mudah dipahami.
5. Sedikit kontrol karena masyarakat masih dalam kondisi homogen.
Kelemahan teori jarum suntik:
1. Keberadaan masyarakat yang tak lagi homogen dapat mengikis teori ini.
2. Tingkat pendidikan masyarakat yang semakin meningkat.
3. Meningkatnya jumlah media massa sehingga masyarakat menentukan pilihan yang menarik bagi dirinya.
4. Adanya peran kelompok yang juga menjadi dasar audience untuk menerima pesan media tersebut.

SEJARAH
Sejarah Teori Peluru ini merupakan konsep awal efek komunikasi massa yang oleh para pakar komunikasi tahun 1970-an dinamakan pula Hypodermic Needle Theory (Teori Jarum Hipodermik). Teori ini ditampilkan tahun 1950-an setelah peristiwa penyiaran kaleidoskop stasiun radio siaran CBS di Amerika berjudul The Invansion from Mars (Effendy.1993:264-265). Istilah model hypodermic neadle timbul pada periode ketika komunikasi massa digunakan secara meluas, baik di Eropa maupun di Amerika Serikat, yaitu sekitar1930-an dan mencapai puncaknya menjelang Perang Dunia II. Pada periode ini kehadiran media massa baik media cetak maupun media elektronik mendatangkan perubahan-perubahan besar di berbagai masyarakat yang terjangkau oleh allpowerfull media massa.
Penggunaan media massa secara luas untuk keperluan komunikasi melahirkan gejala-gejala mass society. Individu-individu tampak seperti distandarisasikan, diotomatisasikan dan kurang keterikatannya di dalam hubungannya antarpribadi (interpersonal relations). Terpaan media massa (mass media exposure) tampak di dalam kecenderungan adanya homogenitas cara-cara berpakaian, pola-pola pembicaraan, nilai-nilai baru yang timbul sebagai akibat terpaan media massa, serta timbulnya produksi masa yang cenderung menunjukan suatu kebudayaan massa. Pengaruh media sebagai hypodermic injection (jarum suntik) didukung oleh munculnya kekuatan propaganda Perang Dunia I dan Perang Dunia II. Media massa memanipulasi kekuatan besar. Bukti-bukti mengenai manipulasi kekuatan besar dari media massa ditunjukkan oleh peristiwa bersejarah sebagai berikut :
a)  Peranan surat-surat kabar Amerika yang berhasil menciptakan pendapat umum positif ketika perang dengan Spanyol pada 1898. Surat-surat kabar itu mampu membuat penduduk Amerika membedakan siapa kawan dan siapa lawan.
b)    Berhasilnya propaganda Goebbels dalam periode Perang Dunia II.
c)    Pengaruh Madison Avenue atas perilaku konsumen dan dalam pemungutan suara.

EFEK
Pada teori ini efek nya yaitu media dapat memengaruhi pikiran dan pendapat masyarakat yang awam, pasif dan tidak berdaya. Mereka akan mudah percaya dengan apa yang dilihat di media. Tetapi berbeda dengan masyarakat yang aktif, mereka akan mencari yang diinginkannya dari media massa, mereka melakukan interpretasi sesuai dengan kebutuhan mereka. Individu memiliki kemampuan untuk menyeleksi apa saja yang berasal dari luar & tidak direspons begitu saja.

CONTOH KASUS
Usai pencoblosan 9 Juli 2014 lalu, publik digiring untuk percaya pada survei-survei yang berbeda. Jika melihat Metro TV, maka yang kita lihat Jokowi menang. Jika melihat TV One, maka yang kita lihat Prabowo menang. Kubu Jokowi pun mendeklarasikan diri sebagai pemenang, demikian pula kubu Prabowo.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar