Pada umumnya khalayak dianggap hanya sekumpulan orang yang
homogen dan mudah dipengaruhi. Sehingga, pesan-pesan yang disampaikan pada
mereka akan selalu diterima. Fenomena tersebut melahirkan teori ilmu komunikasi
yang dikenal dengan teori jarum suntik (Hypodermic Needle Theory). Teori ini
menganggap media massa memiliki kemampuan penuh dalam mempengaruhi seseorang.
Media massa sangat perkasa dengan efek yang langsung pada masyarakat. Khalayak
dianggap pasif terhadap pesan media yang disampaikan.
Teori ini dikenal juga dengan teori peluru, bila komunikator
dalam hal ini media massa menembakan peluru yakni pesan kepada khalayak, dengan
mudah khalayak menerima pesan yang disampaikan media. Teori ini berkembang di
sekitar tahun 1930 hingga 1940an. Teori ini mengasumsikan bahwa komunikator
yakni media massa digambarkan lebih pintar dan juga lebih segalanya dari
audience. Teori ini memiliki banyak istilah lain. Biasa kita sebut Hypodermic
needle (teori jarum suntik), Bullet Theory (teori peluru) transmition belt
theory (teori sabuk transmisi). Dari beberapa istilah lain dari teori ini dapat
kita tarik satu makna, yakni penyampaian pesannya hanya satu arah dan juga
mempunyai efek yang sangat kuat terhadap komunikan.
Teori Peluru yang dikemukakan Wilbur Schramm pada
tahun 1950-an ini kemudian dicabut kembali tahun 1970-an, sebab khalayak yang
menjadi sasaran media massa itu tenyata tidak pasif. Pernyataan Schramm ini
didukung oleh Lazarsfeld dan Raymond
Bauer. Lazarfeld mengatakan bahwa jika khalayak diterpa peluru komunikasi,
mereka tidak jatuh terjerembab, karena kadang-kadang peluru itu tidak menembus.
Ada kalanya efek yang timbul berlainan dengan tujuan si penembak. Sering kali
pula sasaran senang untuk ditembak. Sedangkan Bauer menyatakan bahwa khalayak
sasaran tidak pasif. Mereka secara aktif mencari yang diinginkannya dari media
massa, mereka melakukan interpretasi sesuai dengan kebutuhan mereka. Kesimpulannya
adalah bahwa publik sama sekali tidak memiliki kekuatan untuk menolak informasi
setelah ditembakkan oleh media komunikasi layaknya kemasukan obat bius melalui
jarum suntik. Individu memiliki kemampuan untuk menyeleksi apa saja yang
berasal dari luar & tidak direspons begitu saja.
Selain itu, teori ini memprediksikan
dampak pesan-pesan komunikasi massa yang kuat dan kurang lebih universal pada
semua audience (Severin, Wemer J.2005:314); Disini dapat dimaknai bahwa peran
media massa di waktunya (sekitar tahun 1930an) sangat kuat sehingga audience
benar mengikuti apa yang ada dalam media massa. Selain itu teori ini juga
dimaknai dalam teori peluru. Karena apa yang di sampaikan media langsung sampai
terhadap audience. (Nurudin. 2007 : 165); Kekuatan media yang begitu dahsyat
bisa memegang kendali pikiran khalayak yang pasif dan tak berdaya.
Kekuatan teori
jarum suntik:
1. Media memiliki
peranan yang kuat dan dapat mempengaruhi efektif, kognisi dan behaviour dari
audiencenya.
2. Pemerintah dalam hal
ini penguasa dapat memanfaatkan media untuk kepentingan birokrasi (negara
otoriter).
3. Audience
dapat lebih mudah dipengaruhi.
4. Pesannya lebih mudah
dipahami.
5. Sedikit kontrol
karena masyarakat masih dalam kondisi homogen.
Kelemahan
teori jarum suntik:
1. Keberadaan
masyarakat yang tak lagi homogen dapat mengikis teori ini.
2. Tingkat pendidikan
masyarakat yang semakin meningkat.
3. Meningkatnya jumlah
media massa sehingga masyarakat menentukan pilihan yang menarik bagi dirinya.
4. Adanya peran
kelompok yang juga menjadi dasar audience untuk menerima pesan media tersebut.
SEJARAH
Sejarah Teori Peluru ini merupakan konsep awal efek
komunikasi massa yang oleh para pakar komunikasi tahun 1970-an dinamakan
pula Hypodermic Needle Theory (Teori Jarum Hipodermik). Teori ini
ditampilkan tahun 1950-an setelah peristiwa penyiaran kaleidoskop stasiun radio
siaran CBS di Amerika berjudul The Invansion from Mars
(Effendy.1993:264-265). Istilah model hypodermic neadle timbul pada
periode ketika komunikasi massa digunakan secara meluas, baik di Eropa maupun
di Amerika Serikat, yaitu sekitar1930-an dan mencapai puncaknya menjelang
Perang Dunia II. Pada periode ini kehadiran media massa baik media cetak maupun
media elektronik mendatangkan perubahan-perubahan besar di berbagai masyarakat
yang terjangkau oleh allpowerfull media massa.
Penggunaan media massa secara luas untuk keperluan komunikasi
melahirkan gejala-gejala mass society. Individu-individu tampak seperti
distandarisasikan, diotomatisasikan dan kurang keterikatannya di dalam
hubungannya antarpribadi (interpersonal relations). Terpaan media massa (mass
media exposure) tampak di dalam kecenderungan adanya homogenitas cara-cara
berpakaian, pola-pola pembicaraan, nilai-nilai baru yang timbul sebagai akibat
terpaan media massa, serta timbulnya produksi masa yang cenderung menunjukan
suatu kebudayaan massa. Pengaruh media sebagai hypodermic injection (jarum
suntik) didukung oleh munculnya kekuatan propaganda Perang Dunia I dan Perang
Dunia II. Media massa memanipulasi kekuatan besar. Bukti-bukti mengenai
manipulasi kekuatan besar dari media massa ditunjukkan oleh peristiwa
bersejarah sebagai berikut :
a) Peranan
surat-surat kabar Amerika yang berhasil menciptakan pendapat umum positif
ketika perang dengan Spanyol pada 1898. Surat-surat kabar itu mampu membuat
penduduk Amerika membedakan siapa kawan dan siapa lawan.
b) Berhasilnya
propaganda Goebbels dalam periode Perang Dunia II.
c) Pengaruh
Madison Avenue atas perilaku konsumen dan dalam pemungutan suara.
EFEK
Pada teori ini efek nya yaitu media dapat memengaruhi pikiran dan pendapat masyarakat yang awam, pasif dan tidak berdaya. Mereka akan mudah percaya dengan apa yang dilihat di media. Tetapi berbeda dengan masyarakat yang aktif, mereka akan mencari yang diinginkannya dari media massa, mereka melakukan interpretasi sesuai dengan kebutuhan mereka. Individu memiliki kemampuan untuk menyeleksi apa saja yang berasal dari luar & tidak direspons begitu saja.
Pada teori ini efek nya yaitu media dapat memengaruhi pikiran dan pendapat masyarakat yang awam, pasif dan tidak berdaya. Mereka akan mudah percaya dengan apa yang dilihat di media. Tetapi berbeda dengan masyarakat yang aktif, mereka akan mencari yang diinginkannya dari media massa, mereka melakukan interpretasi sesuai dengan kebutuhan mereka. Individu memiliki kemampuan untuk menyeleksi apa saja yang berasal dari luar & tidak direspons begitu saja.
CONTOH KASUS
Usai pencoblosan 9 Juli 2014 lalu, publik digiring untuk percaya pada survei-survei yang berbeda. Jika melihat Metro TV, maka yang kita lihat Jokowi menang. Jika melihat TV One, maka yang kita lihat Prabowo menang. Kubu Jokowi pun mendeklarasikan diri sebagai pemenang, demikian pula kubu Prabowo.
Usai pencoblosan 9 Juli 2014 lalu, publik digiring untuk percaya pada survei-survei yang berbeda. Jika melihat Metro TV, maka yang kita lihat Jokowi menang. Jika melihat TV One, maka yang kita lihat Prabowo menang. Kubu Jokowi pun mendeklarasikan diri sebagai pemenang, demikian pula kubu Prabowo.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar