Menurut teori kultivasi ini, televisi menjadi media atau alat
utama dimana para penonton televisi belajar tentang masyarakat dan kultur dilingkungannya.
Dengan kata lain, persepsi apa yang terbangun di benak pemirsa tentang masyarakat
dan budaya sangat
ditentukan oleh televisi. Ini artinya, melalui kontak pemirsa dengan televisi,
mereka belajar tentang
dunia, orang-orangnya, nilai (nilai sosial)
serta adat dan tradisinya.
Pecandu berat televisi membentuk suatu citra realitas yang tidak konsisten
dengan kenyataan. Contoh, pecandu berat televisi menganggap kemungkinan
seseorang untuk menjadi korban kejahatan adalah 1 berbanding 10. Dalam kenyataan angkanya adalah 1 berbanding
50. Pecandu berat mengira bahwa 20% dari total penduduk dunia berdiam di
Amerika Serikat. Kenyataannya hanya 6%.
Menurut Gerbner, terpaan media
khususnya televisi mampu memperkuat presepsi khalayak terhadap realitas sosial.
Hal ini tampak pada hipotesis dasar analisis kultivasi yakni “semakin banyak
waktu seseorang dihabiskan untuk menonton TV, maka semakin seseorang menganggap
bahwa realitas sosial itu sama seperti yang digambarkan TV”. Mengutip Gerbner
tentang teori Kultivasi ini, McQuail menyebutkan bahwa semakin banyak seseorang
menghabiskan waktu menonton televisi dari segala jenis program maka ia akan
semakin mengadopsi pandangan dominan mengenai dunia yang ditampilkan di media
tersebut. Hal ini juga berlaku di politik, karna televisi tadinya merupakan
sumber utama informasi politik bagi sebagian besar orang (Mc.Quail 2011: 258).
Tentu
saja, tidak semua pecandu berat televisi terkultivasi secara sama. Beberapa
lebih mudah dipengaruhi televisi daripada yang lain (Hirsch, 1980). Contoh,
pengaruh ini bergantung bukan saja pada seberapa banyak seseorang menonton
televisi melainkan juga pada pendidikan, penghasilan dan jenis kelamin pemirsa.
Misalnya, pemirsa ringan berpenghasilan rendah melihat kejahatan sebagai
masalah yang serius sedangkan pemirsa ringan berpenghasilan tinggi tidak
demikian. Wanita pecandu berat melihat kejahatan sebagai masalah yang lebih
serius ketimbang pria pecandu berat. Artinya, ada faktor-faktor lain di luar tingkat
keseringan menonton televisi yang memengaruhi persepsi kita tentang dunia serta
kesiapan kita untuk menerima gambaran dunia di televisi sebagai dunia yang
sebenarnya.
Jadi, meskipun televisi
bukanlah satu-satunya sarana yang membentuk padangan kita tentang dunia,
televisi merupakan salah satu media yang paling ampuh, terutama bila kontak
dengan televisi sangat sering dan berlangsung dalam waktu yang lama.
SEJARAH
Teori ini diperkenalkan oleh George Gerbner pada tahun 1960 ketika ia menjadi dekan Annenberg
School of Communication di Universitas Pennsylvania Amerika Serikat (AS) dengan
tulisannya yang berjudul “Living with Television : The Violenceprofile”.
Ia melakukan penelitian untuk mempelajari pengaruh televisi terhadap khalayak.
Dengan kata lain, ia ingin mengetahui seperti apa dunia nyata yang
dipersepsikan oleh penonton televisi.
Teori
ini menggambarkan bagaimana pengaruh televisi terhadap tindak kekerasan.
Gerbner menyatakan televisi merupakan suatu kekuatan yang secara dominan mempengaruhi
masyarakat modern.. Apa yang ditampilkan di televisi dipandang sebagai sebuah
kehidupan yang nyata dalam kehidupan sehari-hari. Tentu saja kenyataannya belum
tentu demikian.
Pada tahun 1999 The Annenberg Public Policy melaporkan bahwa 28% acara
anak-anak mengandung 4 atau 5 adegan kekerasan, dan 75% dari program ini tidak
memiliki ukuran atau tingkat kekerasan (“Value of Children’s Shows,” seperti
dikutip dari Wood, 2004 : 245).
Di tahun yang sama, penelitian menunjukkan bahwa anak berusia 6 tahun kira-kira
telah menghabiskan 5000 jam untuk menonton TV, sedangkan usia 18 tahun
kira-kira telah menghabiskan 19000 jam untuk televisi. Hampir semua anak-anak
diatas menyaksikan televisi tanpa pengawasan dari orang tua dan tanpa peraturan
mengenai apa saja yang boleh mereka saksika dari program televisi (Rideout,
Foehr, Roberts, & Bordie, dikutip dari Wood, 2004 : 245).
Berbicara mengenai teori kultivasi, terdapat dua tipe
penonton televisi. Tipe pertama adalah mereka yang memiliki ketergantungan
terhadap televisi (Heavy viewers), penonton lebih dari 4 jam/hari (konsumsi
tinggi terhadap penggunaan televisi) dan lawannya penonton konsumsi rendah
(Light Viewers). Heavy viewers percaya bahwa dunia nyata sesuai dengan apa yang
ada di televisi.
EFEK
Pada teori ini efeknya yaitu pada pecandu berat televisi, mereka akan lebih mudah terpengaruh oleh televisi.
Pada teori ini efeknya yaitu pada pecandu berat televisi, mereka akan lebih mudah terpengaruh oleh televisi.
CONTOH KASUS
Tontonan seperti acara sinetron maupun reality show yang sering menunjukkan kekerasan, perselingkuhan, kriminal, dan lain sebagainya akan dianggap sebagai gambaran bahwa itulah yang sering terjadi di kehidupan realita. Padahal belum tentu semua yang terdapat pada tayangan itu adalah kejadian-kejadian yang sering terjadi dikehidupan kita. Karena jika ditelaah, semua yang terdapat pada reality show atau sinetron adalah hasil dari skenario belaka. Begitu pula para penikmat kartun yang sudah menonton kartun sudah sejak kecil, pada awal mereka mulai menonton kartun mereka beranggapan bahwa apa yang ada ditayangkan itu adalah nyata. Misalnya anak-anak yang menonton kartun Hamtaro, mereka beranggapan bahwa hamster yang menjadi tokoh utama dikartun tersebut benar-benar bisa berbicara layaknya manusia atau manusia dapat berbicara dengan hewan kesayangannya.
Tontonan seperti acara sinetron maupun reality show yang sering menunjukkan kekerasan, perselingkuhan, kriminal, dan lain sebagainya akan dianggap sebagai gambaran bahwa itulah yang sering terjadi di kehidupan realita. Padahal belum tentu semua yang terdapat pada tayangan itu adalah kejadian-kejadian yang sering terjadi dikehidupan kita. Karena jika ditelaah, semua yang terdapat pada reality show atau sinetron adalah hasil dari skenario belaka. Begitu pula para penikmat kartun yang sudah menonton kartun sudah sejak kecil, pada awal mereka mulai menonton kartun mereka beranggapan bahwa apa yang ada ditayangkan itu adalah nyata. Misalnya anak-anak yang menonton kartun Hamtaro, mereka beranggapan bahwa hamster yang menjadi tokoh utama dikartun tersebut benar-benar bisa berbicara layaknya manusia atau manusia dapat berbicara dengan hewan kesayangannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar