Teori
ini diaplikasikan pada perilaku konsumen, kendati pada awalnya menjadi bidang
penelitian komunikasi massa yang bertujuan untuk memahami efek terpaan media
massa. Berdasarkan penelitian Albert Bandura, teori ini menjelaskan bahwa
pemirsa meniru apa yang mereka lihat di televisi, melalui suatu proses
observational learning (pembelajaran hasil pengamatan).
Sebuah teori dalam bidang psikologis yang berguna dalam mengkaji dampak
media massa adalah Teori Pembelajaran Sosial (Social Learning Theory). Teori
ini dipopulerkan oleh Albert Bandura
dan dibantu oleh Richard Walter. Namun, pembelajaran sosial ini pernah diteliti
oleh dua orang psikolog, yaitu: Neil Miller dan John Dollard pada tahun 1941.
Dalam laporan hasil percobaan Miller dan Dollard,
mereka mengatakan bahwa peniruan (imitation) di antara manusia tidak
disebabkan oleh unsur instink atau program biologis. Penelitian kedua orang
tersebut mengindikasikan bahwa kita belajar (learn) meniru perilaku
orang lain. Artinya peniruan tersebut merupakan hasil dari satu proses
belajar, bukan bisa begitu saja karena instink. Proses belajar tersebut
oleh Miller dan Dollard dinamakan "social learning “(pembelajaran
social). Perilaku peniruan (imitative behavior) kita terjadi karena kita
merasa telah memperoleh imbalan ketika kita meniru perilaku orang lain, dan
memperoleh hukuman ketika kita tidak menirunya.
Dalam
penelitiannya, Miller dan Dollard menunjukan bahwa anak-anak dapat belajar
meniru atau tidak meniru seseorang dalam upaya memperoleh imbalan berupa
permen. Dalam percobaannya tersebut, juga dapat diketahui bahwa anak-anak dapat
membedakan orang-orang yang akan ditirunya. Misalnya jika orang tersebut
laki-laki maka akan ditirunya, jika perempuan tidak. Karakter di media dapat
mempengaruhi perilaku hanya dengan ditayangkan di layar. Penonton tidak perlu
diberi penguat untuk memperlihatkan perilaku yang dicontohkan.
CONTOH KASUS
Anak-anak
yang menonton televisi tentang kekerasan, pembunuhan, tanpa diawasi oleh orang
tua, cenderung akan mengimitasi (meniru) adegan-adegan tersebut ke dalam
kehidupan nyata. Anak-anak berpikir apabila ia meniru adegan-adegan tersebut,
maka ia merasa akan sama seperti orang yang memerankan adegan kekerasan atau
pembunuhan tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar