Kamis, 03 November 2016

Manfaat Komunikasi Multimedia Bagi FISIP UMJ


LATAR BELAKANG

Multimedia adalah penggunaan komputer untuk menyajikan dan menggabungkan teks, suara, gambar, animasi dan video dengan alat bantu (tool) dan koneksi (link) sehingga pengguna dapat berinteraksi, berkarya, berkomunikasi sehingga dapat membentuk interaktif yang inovatif antara komputer dengan usernya. Multimedia dimanfaatkan dalam dunia pendidikan. Di dunia pendidikan, multimedia digunakan sebagai media pengajaran, baik dalam kelas maupun secara sendiri-sendiri. Salah satunya di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Jakarta (FISIP UMJ).
Pada zaman sekarang ini, para mahasiswa kebanyakan sudah melek dan update akan teknologi multimedia. Hal ini karena menjadi suatu tuntutan untuk para mahasiswa agar paham akan teknologi multimedia sehingga mempermudah aktivitas perkuliahan yang dilakukan setiap harinya. Selain para mahasiswa, para tenaga pengajar atau dosen sebagai unsur dominan dalam proses belajar mengajar, juga dituntut agar melek dan update akan teknologi multimedia supaya tidak  ketinggalan zaman.

Namun, dari banyaknya teknologi multimedia yang baru pada zaman sekarang, belum tentu pengaplikasiannya sudah berjalan dengan efektif. Apakah sudah mempermudah mahasiswa dan dosen di FISIP UMJ? Apakah sudah memberikan manfaat untuk memenuhi standar perkuliahan di FISIP UMJ? Karena hal yang paling penting itu bagaimana teknologi multimedia ini dapat menjadi salah satu sarana yang mendukung dan mampu memotivasi mahasiswa dan dosen FISIP UMJ dalam memperkaya ilmu pengetahuan di lingkungan kampus FISIP UMJ.


PERMASALAHAN

1. Sistem Pengisian KRS Online
Ketika mendengar kata “online” maka hal yang ada dalam benak kita adalah kita dapat mengisi sesuatu apapun melalui jaringan internet, dimana dan kapan saja. Namun, berbeda dengan KRS online di FISIP UMJ. Masih minim manfaat yang didapat oleh fasilitas ini. Seharusnya apabila sudah dalam kategori “online”, maka mahasiswa bisa mengisi KRS secara online tanpa harus datang ke kampus dan mengisi KRS secara manual.

2. LCD Proyektor yang Tidak Maksimal
Proyektor merupakan media yang mempunyai peran sangat penting dalam proses belajar dan mengajar untuk mempermudah penyampaian materi dan presentasi. Tetapi, masih sering ditemukan LCD proyektor yang bermasalah sehingga mengganggu proses belajar dan mengajar, seperti gangguan pada sistem atau layar proyektor yang tidak mau menyala. Hal ini tentu merugikan mahasiswa dan dosen dalam penyampaian dan penerimaan materi. Karena apabila proses belajar dan mengajar dilakukan secara manual, tentu akan menjadi tidak efektif dan membuat mahasiswa menjadi mudah bosan saat mendengarkan materi.

3. Sistem Absen yang Manual
Dalam absensi kelas saat ini, FISIP UMJ masih menggunakan sistem manual yaitu dengan dipanggil oleh dosen satu persatu yang tentu dalam hal ini akan memperlambat proses belajar dan mengajar di kelas atau menggunakan tanda tangan yang memungkinkan akan menimbulkan kecurangan oleh mahasiswa yang tidak bertanggung jawab.

4. Fasilitas Lab yang Belum Maksimal
Fasilitas lab untuk kegiatan belajar mahasiswa, khususnya dalam jurusan komunikasi, tentu saja sangat memerlukan media pendukung yaitu multimedia. Namun, lab komunikasi yang ada belum bisa digunakan secara maksimal. Hal ini karena media pendukung lab yang masih belum lengkap dan dalam tahap perkembangan.

5. Buku-Buku Perpustakaan yang Masih Belum Lengkap
Masih ada beberapa buku yang belum tersedia di dalam perpustakaan FISIP UMJ sehingga menyulitkan mahasiswa untuk mencari referensi dalam proses belajar atau ketika sedang mengerjakan tugas. Padahal, perpustakaan memiliki peran penting untuk mahasiswa yang ingin menambah wawasan lebih luas selain wawasan dan ilmu yang didapat dari dosen yang mengajar di kelas.

SOLUSI

Dari permasalahan-permasalahan di atas, sebaiknya FISIP UMJ dapat memperbaiki kinerja yang lebih baik dan dapat memaksimalkan penggunaan teknologi multimedia yang sudah ada. Setiap dari kita juga memiliki peran penting untuk dapat selalu memanfaatkan teknologi multimedia yang tersedia di FISIP UMJ.

Maka dari itu, dibutuhkan tanggung jawab dan kesadaran dari pihak-pihak yang dapat berkontribusi untuk memajukan FISIP UMJ dan merealisasikan hal-hal yang membangun FISIP UMJ. Sehingga mahasiswa pada khususnya, dapat merasakan manfaat yang ada dari kecanggihan teknologi multimedia yang sudah ada di FISIP UMJ, guna mempermudah proses belajarnya sebagaimana mestinya.

Senin, 16 Mei 2016

Teori Kritikal Media


Teori media kritis berasal dari aliran ilmu-ilmu kritis yang bersumber pada ilmu sosial Marxis. Beberapa tokoh yang mempeloporinya antara lain Karl Mark, Engels (pemikiran klasik), George Lukacs, Korsch, Gramschi, Guevara, Regis, Debay, T Adorno, Horkheimer, Marcuse, Habermas, Altrusser, Johan Galtung, Cardoso, Dos Santos, Paul Baran Samir Amin, Hamza Alavi (pemikiran modern).
Teori kritis melihat bahwa media tidak lepas kepentingan, terutama sarat kepentingan kaum pemilik modal, negara atau kelompok yang menindas lainnya. Dalam artian ini, media menjadi alat dominasi dan hegemoni masyarakat. Konsekuensi logisnya adalah realitas yang dihasilkan oleh media bersifat pada dirinya bias atau terdistorsi.
Teori media kritis berangkat dari cara melihat realitas dengan mengasumsikan bahwa selalu saja ada struktur sosial yang tidak adil. Teori media kritis berhubungan dengan berbagai topik yang relevan, termasuk bahasa, struktur organisasi, hubungan interpersonal, dan media. Komunikasi itu sendiri menurut perspektif kritis merupakan suatu hasil dari tekanan (tension) antara kreativitas individu dalam memberi kerangka pada pesan dan kendala-kendala sosial terhadap kreativitas tersebut.
Selanjutnya, teori kritis melihat bahwa media adalah pembentuk kesadaran. Representasi yang dilakukan oleh media dalam sebuah struktur masyarakat lebih dipahami sebagai media yang mampu memberikan konteks pengaruh kesadaran (manufactured consent). Dengan demikian, media menyediakan pengaruh untuk mereproduksi dan mendefinisikan status atau memapankan keabsahan struktur tertentu. Inilah sebabnya, media dalam kapasitasnya sebagai agen sosial sering mengandaikan juga praksis sosial dan politik.
Pendefinisian dan reproduksi realitas yang dihasilkan oleh media massa tidak hanya dilihat sebagai akumulasi fakta atau realitas itu sendiri. Reproduksi realitas melalui media merupakan representasi tarik ulur ideologi atau sistem nilai yang mempunyai kepentingan yang berbeda satu sama lain. Dalam hal ini, media tidak hanya memainkan perannya hanya sekedar instrumen pasif yang tidak dinamis dalam proses rekonstruksi budaya tapi media massa tetap menjadi realitas sosial yang dinamis.
Teori kritis mengajarkan bahwa pengetahuan adalah kekuatan untuk memahami bagaimana seseorang ditindas sehingga orang dapat mengambil tindakan untuk merubah kekuatan penindas.
CONTOH KASUS
Program acara televisi Reportase Investigasi yang membongkar suatu permasalahan yang terjadi dalam lingkungan sosial. Dalam penerapannya Reportase Investigasi mengajak masyarakat untuk berpikir kritis atas segala hal yang terjadi dalam kehidupannya. Seperti pada kasus daging sisa yang dirubah menjadi daging segar, program televisi ini memberikan informasi kepada masyarakat bahwa ada fenomena yang bisa digolongkan dalam peristiwa kriminal di pasar. Program televisi ini juga membongkar bagaimana hal itu bisa terjadi, dan bagaimana prosesnya. Pada setiap kasus yang ditayangkan, program berita ini juga memberikan solusi kepada masyarakat, ini tentunya memberikan keuntungan bagi masyarakat.

Minggu, 15 Mei 2016

Teori Agenda Setting


Teori ini dipelopori oleh Walter Lipmann (wartawan politik asal Amerika) pada tahun 1992. Ia mengusulkan bahwa “masyarakat menerima fakta bukan sebagaimana adanya, tapi apa yang mereka anggap sebagai fakta, kenyataan fatamorgana atau lingkungan palsu. Untuk sebagian besar, kita tidak melihat dulu dan kemudian merumuskan, tapi kita merumuskan dulu kemudian melihat”. Denis McQuail (2000) mengatakan bahwa istilah ‘agenda setting’ diciptakan oleh Maxwell McCombs dan Donald Shaw (1972, 1993), dua peneliti dari Universitas North Carolina, untuk menjelaskan gejala atau fenomena kegiatan kamapanye pemilihan umum (pemilu) yang telah lama diamati dan diteliti oleh kedua sarjana tersebut. Penelitian oleh McCombs dan Shaw merupakan tonggak awal perkembangan teori agenda setting. Studi efek media dengan pendekatan agenda setting sesungguhnya sudah mulai pada tahun 1960’an, namun popularitas baru muncul pada hasil penelitian karya McCombs dan Donald Shaw mengenai fungsi khusus media massa.
Mereka mengemukakan bahwa media massa mempunyai kemampuan untuk memindahkan wacana dalam agenda pemberitaan kepada agenda publik. Kedua ahli tersebut percaya bahwa ada dua sisi yang digunakan pada teori ini untuk mengkaji media yaitu melihat kekuatan dari media dan kebebasan khalayak untuk memilih. Sesuatu yang dianggap penting oleh media maka hal tersebut akan menjadi penting untuk dipublikasikan.
Teori agenda setting merupakan teori komunikasi massa, yang melihat efek media massa terhadap masyarakat yang mengkonsumsi media tersebut. Dimulai dengan menyaring berita, informasi, tulisan atau artikel secara selektif oleh gatekeepers, mana hal yang harus diinformasikan mana hal yang harus disembunyikan. Setiap peristiwa atau isu yang dimunculkan, akan diberi bobot tertentu dalam penyajiannya kepada masyarakat.
Fungsi penyusunan agenda telah dijelaskan oleh Donal Shaw, Maxwell McCombs dan rekan-rekan mereka yang menulis bahwa, ada bukti besar yang telah dikumpulkan bahwa penyunting dan penyiar memainkan bagian yang penting dalam membentuk realitas sosial kita ketika mereka menjalankan tugas keseharian mereka dalam memilih dan menampilakan berita. Pengaruh media massa ini adalah kemampuan untuk memengaruhi perubahan kognitif antarindividu untuk menyusun pemikiran mereka, telah diberi nama fungsi penyusunan agenda dari komunikasi massa. Disini terletak pengaruh paling penting dari komunikasi massa, kemampuannya untuk menata mental dan mengatur dunia kita bagi kita sendiri. Singkatnya, media massa mungkin tidak berhasil dalam dalam memberi kita apa yang harus dipikirkan, tetapi mereka secara mengejutkan berhasil dalam memberitahu kita tentang apa yang harus kita pikirkan. Atau dengan kata lain, penyusunan agenda membentuk gambaran atau isu yang penting dalam pikiran masyarakat (Stephen W Littlejohn dan Karen A Foss, 2009).
Berdasarkan paragraf diatas dapat disimpulkan betapa kuatnya pengaruh media terhadap apa yang difikirkan oleh audience-nya. Mungkin media belum tentu berhasil mengubah sikap audience-nya, tapi media akan cukup memengaruhi apa yang difikirkan. Dengan kata lain, media mampu memengaruhi atau justru menggiring persepsi audience-nya.
CONTOH KASUS
Berita Gaza pada sisi  peperangan yang dianggap penting membuat masyarakat berpikir akan kebenaran yang diberitakan media. Berbagai media memberitakan isu Gaza dari sudut pandang berbeda yang membuat berita Gaza diterima oleh khalayak dan khalayak akan terus mengikuti peristiwa tersebut. Masyarakat menerima pemberitaan yang di agendakan, sehingga mempengaruhi pikiran khalayak tentang apa yang terjadi di Gaza Palestina. Realitas yang ada di Gaza Palestina menjadi booming karena media stasiun televisi termasuk internet juga terus menerus memberitakan serangan Israel terhadap Gaza. Media stasiun televisi maupun media online menganggap penting hal tersebut sehingga media mengagendakan peristiwa serangan di Gaza menjadi penting. Kemudian isu tersebut dinilai publik sebagai isu-isu yang penting dan diikuti terus perkembangannya. Publik menganggap apa yang diberitakan media itu penting dan membuat publik berpikir Gaza harus di support.

Teori Pembelajaran Sosial


Teori ini diaplikasikan pada perilaku konsumen, kendati pada awalnya menjadi bidang penelitian komunikasi massa yang bertujuan untuk memahami efek terpaan media massa. Berdasarkan penelitian Albert Bandura, teori ini menjelaskan bahwa pemirsa meniru apa yang mereka lihat di televisi, melalui suatu proses observational learning (pembelajaran hasil pengamatan).
Sebuah teori dalam bidang psikologis yang berguna dalam mengkaji dampak media massa adalah Teori Pembelajaran Sosial (Social Learning Theory). Teori ini dipopulerkan oleh Albert Bandura dan dibantu oleh Richard Walter. Namun, pembelajaran sosial ini pernah diteliti oleh dua orang psikolog, yaitu: Neil Miller dan John Dollard pada tahun 1941.
Dalam laporan hasil percobaan Miller dan Dollard, mereka mengatakan bahwa peniruan (imitation) di antara manusia tidak disebabkan oleh unsur instink atau program biologis. Penelitian kedua orang tersebut mengindikasikan bahwa kita belajar (learn) meniru perilaku orang lain. Artinya peniruan tersebut merupakan hasil dari satu proses belajar, bukan bisa begitu saja karena instink. Proses belajar tersebut oleh Miller dan Dollard dinamakan "social learning “(pembelajaran social). Perilaku peniruan (imitative behavior) kita terjadi karena kita merasa telah memperoleh imbalan ketika kita meniru perilaku orang lain, dan memperoleh hukuman ketika kita tidak menirunya.
Dalam penelitiannya, Miller dan Dollard menunjukan bahwa anak-anak dapat belajar meniru atau tidak meniru seseorang dalam upaya memperoleh imbalan berupa permen. Dalam percobaannya tersebut, juga dapat diketahui bahwa anak-anak dapat membedakan orang-orang yang akan ditirunya. Misalnya jika orang tersebut laki-laki maka akan ditirunya, jika perempuan tidak. Karakter di media dapat mempengaruhi perilaku hanya dengan ditayangkan di layar. Penonton tidak perlu diberi penguat untuk memperlihatkan perilaku yang dicontohkan.

CONTOH KASUS

Anak-anak yang menonton televisi tentang kekerasan, pembunuhan, tanpa diawasi oleh orang tua, cenderung akan mengimitasi (meniru) adegan-adegan tersebut ke dalam kehidupan nyata. Anak-anak berpikir apabila ia meniru adegan-adegan tersebut, maka ia merasa akan sama seperti orang yang memerankan adegan kekerasan atau pembunuhan tersebut.

Teori Literasi Media


Literasi media adalah kemampuan untuk memahami, menganalisis, dan mendekonstruksi pencitraan media. Kemampuan untuk melakukan hal ini ditujukan agar pemirsa sebagai konsumen media (termasuk anak-anak) menjadi sadar (melek) tentang cara media dikonstruksi (dibuat) dan diakses.
Keberadaan media massa dewasa ini dinilai telah dijejali oleh informasi atau berita-berita yang menakutkan, seperti kekerasan, pencurian, pelecehan seksual, dan sebagainya. Bahkan media massa, kini menjadi penyebar pesan pesimisme. Akibatnya, media massa justru sangat menakutkan bagi masyarakat. Di negara-negara berkembang, banyak sekali dijumpai kenyataan bahwa harapan-harapan yang diciptakan oleh pesan komunikasi dalam media massa menimbulkan frustrasi, karena tidak terpenuhi harapan yang dipaparkan media itu.
Dalam upaya menyikapi pengaruh media massa seperti itu, saat ini berkembang pemikiran tentang media literasi. Kajian ini merupakan gerakan penting di kalangan kumpulan-kumpulan advokasi di negara maju untuk mengendalikan kepentingan dan pengaruh media massa dalam kehidupan individu, keluarga dan masyarakat serta membantu kita merancang tindakan dalam menangani pengaruh tersebut. Dalam kata lain, kajian ini membantu individu menjadi melek media.
Tujuan dasar literasi media ialah mengajar khalayak dan pengguna media untuk menganalisis pesan yang disampaikan oleh media massa, mempertimbangkan tujuan komersil dan politik di balik suatu citra atau pesan media, dan meneliti siapa yang bertanggungjawab atas pesan atau idea yang diimplikasikan oleh pesan atau citra itu. Seseorang pengguna media yang mempunyai literasi media atau melek media akan berupaya memberi reaksi dan menilai sesuatu pesan media dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab.

SEJARAH
Sejarah literasi media dimulai tahun 1964 saat UNESCO mengembangkan prototype model program pendidikan media yang hendak diterapkan di seluruh dunia. Pada waktu itu, baru dua Negara yang menaruh perhatian pada literasi media, yakni Inggris dan Australia. Kalangan pendidik di dua Negara itu menyarankan pelaksanaan pendidikan untuk mencapai literasi media, “agar anak-anak remaja secara kritis melihat dan membedakan apa yang baik dan apa yang buruk dalam media.
Pada tahun 1970-an, pendidikan media masuk ke dalam kurikulum di sekolah menengah di Negara-negara di Eropa dan Amerika Latin untuk membantu menghapuskan kesenjagan social akibat ketidaksetaraan akses terhadap informasi, dan juga di Afrika Selatan yang menyelenggarakan pendidikan media untuk mendorong reformasi pendidikan.
Pada tahun 1970-an dan 1980-an di Negara-negara Amerika Latin, literasi media pada awalnya hanya mendapat perhatian dari kalangan LSM dan tokoh-tokoh masyarakat. Literasi media pada masa itu lebih dipandang sebagai persoalan politik dan bukan persoalan pendidikan. Literasi media digunakan oleh guru di sekolah dan tokoh masyarakat di tengah masyarakat. Sedangkan di Eropa, literasi media dikembangkan melalui pendidikan persekolahan dan pendidikan luar sekolah.
Di negara Amerika Serikat, perhatian besart terhadap literasi media baru diberikan sejak tahun 1990, setelah diselenggarakan “National Conference Leadership on Media Education”. Setelah itu, ada 15 negara bagian yang memasukkan literasi media ke dalam kurikulum sekolah.
Intinya, literasi media merupakan salah satu upaya menangkap dampak negatif media massa, karena literasi media memampukan khalayak media untuk mengevaluasi dan berpikir kritis terhadap pesan media.
CONTOH KASUS

Kasus yang menimpa public figure, Zaskia Gotik pada sebuah acara televisi tentang penyebutan lambang yang ada di dasar negara. Muncul pro dan kontra terhadap kasus tersebut. Bagi yang pro menganggap hal itu bisa dimaafkan. Sedangkan bagi yang kontra menganggap, kasus itu dapat ditiru oleh para penonton acara tersebut, terutama anak-anak dan remaja yang masih butuh pendampingan dalam menonton televisi. Oleh karena itu, sebagai orang tua dituntut untuk memiliki peran besar mengatur dan mengawasi anak-anak dan remaja ketika menonton televisi.

Sabtu, 07 Mei 2016

Teori Kultivasi


Menurut teori kultivasi ini, televisi menjadi media atau alat utama dimana para penonton televisi belajar tentang masyarakat dan kultur dilingkungannya. Dengan kata lain, persepsi apa yang terbangun di benak pemirsa tentang masyarakat dan budaya sangat ditentukan oleh televisi. Ini artinya, melalui kontak pemirsa dengan televisi, mereka belajar tentang dunia, orang-orangnya, nilai (nilai sosial) serta adat dan tradisinya. Pecandu berat televisi membentuk suatu citra realitas yang tidak konsisten dengan kenyataan. Contoh, pecandu berat televisi menganggap kemungkinan seseorang untuk menjadi korban kejahatan adalah 1 berbanding 10.  Dalam kenyataan angkanya adalah 1 berbanding 50. Pecandu berat mengira bahwa 20% dari total penduduk dunia berdiam di Amerika Serikat. Kenyataannya hanya 6%.
Menurut Gerbner, terpaan media khususnya televisi mampu memperkuat presepsi khalayak terhadap realitas sosial. Hal ini tampak pada hipotesis dasar analisis kultivasi yakni “semakin banyak waktu seseorang dihabiskan untuk menonton TV, maka semakin seseorang menganggap bahwa realitas sosial itu sama seperti yang digambarkan TV”. Mengutip Gerbner tentang teori Kultivasi ini, McQuail menyebutkan bahwa semakin banyak seseorang menghabiskan waktu menonton televisi dari segala jenis program maka ia akan semakin mengadopsi pandangan dominan mengenai dunia yang ditampilkan di media tersebut. Hal ini juga berlaku di politik, karna televisi tadinya merupakan sumber utama informasi politik bagi sebagian besar orang (Mc.Quail 2011: 258).
Tentu saja, tidak semua pecandu berat televisi terkultivasi secara sama. Beberapa lebih mudah dipengaruhi televisi daripada yang lain (Hirsch, 1980). Contoh, pengaruh ini bergantung bukan saja pada seberapa banyak seseorang menonton televisi melainkan juga pada pendidikan, penghasilan dan jenis kelamin pemirsa. Misalnya, pemirsa ringan berpenghasilan rendah melihat kejahatan sebagai masalah yang serius sedangkan pemirsa ringan berpenghasilan tinggi tidak demikian. Wanita pecandu berat melihat kejahatan sebagai masalah yang lebih serius ketimbang pria pecandu berat. Artinya, ada faktor-faktor lain di luar tingkat keseringan menonton televisi yang memengaruhi persepsi kita tentang dunia serta kesiapan kita untuk menerima gambaran dunia di televisi sebagai dunia yang sebenarnya.
Jadi, meskipun televisi bukanlah satu-satunya sarana yang membentuk padangan kita tentang dunia, televisi merupakan salah satu media yang paling ampuh, terutama bila kontak dengan televisi sangat sering dan berlangsung dalam waktu yang lama.

SEJARAH
Teori ini diperkenalkan oleh George Gerbner pada tahun 1960 ketika ia menjadi dekan Annenberg School of Communication di Universitas Pennsylvania Amerika Serikat (AS) dengan tulisannya yang berjudul “Living with  Television : The Violenceprofile”. Ia melakukan penelitian untuk mempelajari pengaruh televisi terhadap khalayak. Dengan kata lain, ia ingin mengetahui seperti apa dunia nyata yang dipersepsikan oleh penonton televisi.
        Teori ini menggambarkan bagaimana pengaruh televisi terhadap tindak kekerasan. Gerbner menyatakan televisi merupakan suatu kekuatan yang secara dominan mempengaruhi masyarakat modern.. Apa yang ditampilkan di televisi dipandang sebagai sebuah kehidupan yang nyata dalam kehidupan sehari-hari. Tentu saja kenyataannya belum tentu demikian.
       Pada tahun 1999 The Annenberg Public Policy melaporkan bahwa 28% acara anak-anak mengandung 4 atau 5 adegan kekerasan, dan 75% dari program ini tidak memiliki ukuran atau tingkat kekerasan (“Value of Children’s Shows,” seperti dikutip dari Wood, 2004 : 245).
        Di tahun yang sama, penelitian menunjukkan bahwa anak berusia 6 tahun kira-kira telah menghabiskan 5000 jam untuk menonton TV, sedangkan usia 18 tahun kira-kira telah menghabiskan 19000 jam untuk televisi. Hampir semua anak-anak diatas menyaksikan televisi tanpa pengawasan dari orang tua dan tanpa peraturan mengenai apa saja yang boleh mereka saksika dari program televisi (Rideout, Foehr, Roberts, & Bordie, dikutip dari Wood, 2004 : 245).
 Berbicara mengenai teori kultivasi, terdapat dua tipe penonton televisi. Tipe pertama adalah mereka yang memiliki ketergantungan terhadap televisi (Heavy viewers), penonton lebih dari 4 jam/hari (konsumsi tinggi terhadap penggunaan televisi) dan lawannya penonton konsumsi rendah (Light Viewers). Heavy viewers percaya bahwa dunia nyata sesuai dengan apa yang ada di televisi.

EFEK
Pada teori ini efeknya yaitu pada pecandu berat televisi, mereka akan lebih mudah terpengaruh oleh televisi.

CONTOH KASUS
Tontonan seperti acara sinetron maupun reality show yang sering menunjukkan kekerasan, perselingkuhan, kriminal, dan lain sebagainya akan dianggap sebagai gambaran bahwa itulah yang sering terjadi di kehidupan realita. Padahal belum tentu semua yang terdapat pada tayangan itu adalah kejadian-kejadian yang sering terjadi dikehidupan kita. Karena jika ditelaah, semua yang terdapat pada reality show atau sinetron adalah hasil dari skenario belaka. Begitu pula para penikmat kartun yang sudah menonton kartun sudah sejak kecil, pada awal mereka mulai menonton kartun mereka beranggapan bahwa apa yang ada ditayangkan itu adalah nyata. Misalnya anak-anak yang menonton kartun Hamtaro, mereka beranggapan bahwa hamster yang menjadi tokoh utama dikartun tersebut benar-benar bisa berbicara layaknya manusia atau manusia dapat berbicara dengan hewan kesayangannya.

Teori Jarum Suntik (Hipodermik)


Pada umumnya khalayak dianggap hanya sekumpulan orang yang homogen dan mudah dipengaruhi. Sehingga, pesan-pesan yang disampaikan pada mereka akan selalu diterima. Fenomena tersebut melahirkan teori ilmu komunikasi yang dikenal dengan teori jarum suntik (Hypodermic Needle Theory). Teori ini menganggap media massa memiliki kemampuan penuh dalam mempengaruhi seseorang. Media massa sangat perkasa dengan efek yang langsung pada masyarakat. Khalayak dianggap pasif  terhadap pesan media yang disampaikan.
Teori ini dikenal juga dengan teori peluru, bila komunikator dalam hal ini media massa menembakan peluru yakni pesan kepada khalayak, dengan mudah khalayak menerima pesan yang disampaikan media. Teori ini berkembang di sekitar tahun 1930 hingga 1940an. Teori ini mengasumsikan bahwa komunikator yakni media massa digambarkan lebih pintar dan juga lebih segalanya dari audience. Teori ini memiliki banyak istilah lain. Biasa kita sebut Hypodermic needle (teori jarum suntik), Bullet Theory (teori peluru) transmition belt theory (teori sabuk transmisi). Dari beberapa istilah lain dari teori ini dapat kita tarik satu makna, yakni penyampaian pesannya hanya satu arah dan juga mempunyai efek yang sangat kuat terhadap komunikan.
Teori Peluru yang dikemukakan Wilbur Schramm pada tahun 1950-an ini kemudian dicabut kembali tahun 1970-an, sebab khalayak yang menjadi sasaran media massa itu tenyata tidak pasif. Pernyataan Schramm ini didukung oleh Lazarsfeld dan Raymond Bauer. Lazarfeld mengatakan bahwa jika khalayak diterpa peluru komunikasi, mereka tidak jatuh terjerembab, karena kadang-kadang peluru itu tidak menembus. Ada kalanya efek yang timbul berlainan dengan tujuan si penembak. Sering kali pula sasaran senang untuk ditembak. Sedangkan Bauer menyatakan bahwa khalayak sasaran tidak pasif. Mereka secara aktif mencari yang diinginkannya dari media massa, mereka melakukan interpretasi sesuai dengan kebutuhan mereka. Kesimpulannya adalah bahwa publik sama sekali tidak memiliki kekuatan untuk menolak informasi setelah ditembakkan oleh media komunikasi layaknya kemasukan obat bius melalui jarum suntik. Individu memiliki kemampuan untuk menyeleksi apa saja yang berasal dari luar & tidak direspons begitu saja.
Selain itu, teori ini memprediksikan dampak pesan-pesan komunikasi massa yang kuat dan kurang lebih universal pada semua audience (Severin, Wemer J.2005:314); Disini dapat dimaknai bahwa peran media massa di waktunya (sekitar tahun 1930an) sangat kuat sehingga audience benar mengikuti apa yang ada dalam media massa. Selain itu teori ini juga dimaknai dalam teori peluru. Karena apa yang di sampaikan media langsung sampai terhadap audience. (Nurudin. 2007 : 165); Kekuatan media yang begitu dahsyat bisa memegang kendali pikiran khalayak yang pasif dan tak berdaya.

Kekuatan teori jarum suntik:
1. Media memiliki peranan yang kuat dan dapat mempengaruhi efektif, kognisi dan behaviour dari audiencenya.
2. Pemerintah dalam hal ini penguasa dapat memanfaatkan media untuk kepentingan birokrasi (negara otoriter).
3. Audience dapat lebih mudah dipengaruhi.
4. Pesannya lebih mudah dipahami.
5. Sedikit kontrol karena masyarakat masih dalam kondisi homogen.
Kelemahan teori jarum suntik:
1. Keberadaan masyarakat yang tak lagi homogen dapat mengikis teori ini.
2. Tingkat pendidikan masyarakat yang semakin meningkat.
3. Meningkatnya jumlah media massa sehingga masyarakat menentukan pilihan yang menarik bagi dirinya.
4. Adanya peran kelompok yang juga menjadi dasar audience untuk menerima pesan media tersebut.

SEJARAH
Sejarah Teori Peluru ini merupakan konsep awal efek komunikasi massa yang oleh para pakar komunikasi tahun 1970-an dinamakan pula Hypodermic Needle Theory (Teori Jarum Hipodermik). Teori ini ditampilkan tahun 1950-an setelah peristiwa penyiaran kaleidoskop stasiun radio siaran CBS di Amerika berjudul The Invansion from Mars (Effendy.1993:264-265). Istilah model hypodermic neadle timbul pada periode ketika komunikasi massa digunakan secara meluas, baik di Eropa maupun di Amerika Serikat, yaitu sekitar1930-an dan mencapai puncaknya menjelang Perang Dunia II. Pada periode ini kehadiran media massa baik media cetak maupun media elektronik mendatangkan perubahan-perubahan besar di berbagai masyarakat yang terjangkau oleh allpowerfull media massa.
Penggunaan media massa secara luas untuk keperluan komunikasi melahirkan gejala-gejala mass society. Individu-individu tampak seperti distandarisasikan, diotomatisasikan dan kurang keterikatannya di dalam hubungannya antarpribadi (interpersonal relations). Terpaan media massa (mass media exposure) tampak di dalam kecenderungan adanya homogenitas cara-cara berpakaian, pola-pola pembicaraan, nilai-nilai baru yang timbul sebagai akibat terpaan media massa, serta timbulnya produksi masa yang cenderung menunjukan suatu kebudayaan massa. Pengaruh media sebagai hypodermic injection (jarum suntik) didukung oleh munculnya kekuatan propaganda Perang Dunia I dan Perang Dunia II. Media massa memanipulasi kekuatan besar. Bukti-bukti mengenai manipulasi kekuatan besar dari media massa ditunjukkan oleh peristiwa bersejarah sebagai berikut :
a)  Peranan surat-surat kabar Amerika yang berhasil menciptakan pendapat umum positif ketika perang dengan Spanyol pada 1898. Surat-surat kabar itu mampu membuat penduduk Amerika membedakan siapa kawan dan siapa lawan.
b)    Berhasilnya propaganda Goebbels dalam periode Perang Dunia II.
c)    Pengaruh Madison Avenue atas perilaku konsumen dan dalam pemungutan suara.

EFEK
Pada teori ini efek nya yaitu media dapat memengaruhi pikiran dan pendapat masyarakat yang awam, pasif dan tidak berdaya. Mereka akan mudah percaya dengan apa yang dilihat di media. Tetapi berbeda dengan masyarakat yang aktif, mereka akan mencari yang diinginkannya dari media massa, mereka melakukan interpretasi sesuai dengan kebutuhan mereka. Individu memiliki kemampuan untuk menyeleksi apa saja yang berasal dari luar & tidak direspons begitu saja.

CONTOH KASUS
Usai pencoblosan 9 Juli 2014 lalu, publik digiring untuk percaya pada survei-survei yang berbeda. Jika melihat Metro TV, maka yang kita lihat Jokowi menang. Jika melihat TV One, maka yang kita lihat Prabowo menang. Kubu Jokowi pun mendeklarasikan diri sebagai pemenang, demikian pula kubu Prabowo.